Minggu, 12 Agustus 2018

Sejarah Desa Banyoneng Dajah


Pada zaman penjajahan Belanda ada seorang musyafir dari Pulau Madura singgah di Pulau Jawa dan menetap disana sampai berpuluh-puluh tahun. Umurnya hampir tujuh puluhan, orang tersebut terkena penyakit kulit yang tidak kunjung sembuh. Dan pada akhirnya musyafir tersebut diusir oleh penjajah dan kembali lagi kepulau dimana   ia
dilahirkan, yakni Pulau Madura. Ia pergi ke Madura melalui selat Madura.  Ia  tidak  tentu  tujuannya  terus   berjalan  menelusuri   jalan dan    berpindah      dari     daerah     satu    ke   daerah  yang  lainnya.
minuman yang akan diminum tidak ada bahkan makanan yang akan dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia meminta pada penduduk, namun oleh penduduk sekitar menghiraukannya mengingat Ia terkena penyakit kulit, bahkan penduduk setempat enggan untuk bergaul dengannya.
Pada suatu ketika, ia terus berjalan kearah selatan dan akhirnya menemukan tempat tinggal penduduk yang sumber mata airnya sangat bagus sekali dan akhirnya ia meminta air tersebut untuk diminumnya dan oleh pendudukpun memberinya untuk meminumnya bahkan diizinkan untuk tinggal beberapa saat.
Ketika ia sudah meminum air tersebut ia mengatakan dengan logat jawa “Banyoneng”, yang artinya air yang sangat jernih dan bersih. Dari peristiwa itulah penduduk setempat menamai tempat tinggalnya menjadi Desa Banyoneng. Menurut sejarah Musyafir tersebut adalah Kanjeng Sunan Panji Laras dari Pamekasan.
Pada suatu ketika Desa Banyoneng dipimpin oleh H. Dibi yang kemudian ia memiliki dua orang putra yang sama-sama menginginkan jadi kepala desa, dan keduanya tidak mau mengalah, maka akhirnya Desa Banyoneng di pecah menjadi dua, yakni Desa Banyoneng Dajah dan Desa Banyoneng Laok. Pada saat itu yang menjadi Kepala Desa Banyoneng Dajah adalah  Aba Ja’kub, beliau terkenal dengan pribadi yang santun, peramah, jujur, sakti dan sangat berjasa terhadap tanah air dalam melawan penjajah.

0 komentar:

Posting Komentar